Tuesday, March 27, 2012

SoftSkill :: Ilmu Budaya Dasar -- Manusia dan Kebudayaan :: Kebudayaan Kota Pekalongan

     KOTA PEKALONGAN - merupakan warisan budaya masa lalu yang pernah menjadi ibukota karesidenan pada zaman kolonial sampai dengan masa kemerdekaan yang mempunyai banyak peningalan-peninggalan bersejarah, seperti:  gedung pemerintahan pada masa colonial, kantor pembantu gubernur/residen, dan rumah dinas pembantu gubernur/residen. Selain itu, ada juga lembaga pemasyarakatan, kantor pelabuhan, kantor pos dan giro, stasiun kereta api, tempat ibadah (Masjid Kuno Jami’), Masjid Sapuro, klenteng, serta Rumah Pangeran Keputran, Rumah Pribadi Patih Sepuh, Rumah Adat Pekalongan, dan Rumah Pecinan. Peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut merupakan potensi pariwisata Kota Pekalongan yang sedang terus dikembangkan sebagai daya tarik wisatawan, baik lokal, regional, nasional, maupun internasional.
      Kota Pekalongan merupakan salah satu kota penting dalam penyebaran agama Islam di Pesisir Pulau Jawa. Tidak heran banyak tokoh Islam yang berpengaruh dalam membawa dan mengembangkan ajaran agama Islam yang akhinya dimakamkan di Kota Pekalongan. Salah satunya adalah Sayid Ahmad bin Abdullah bin Tholib Al Atas. Beliau adalah seorang ulama besar yang semasa hidupnya sangat berjasa dalam merintis pendirian beberapa pondok pesantren di Pulau Jawa. Makam beliau terletak di Jalan Irian Kelurahan Sapuro, Kecamatan Pekalongan Barat, sekitar 1000 meter dari terminal bus Kota Pekalongan. Di dekat komplek pemakaman beliau juga terdapat masjid tua bernama ’Masjid Aulia” yang dibangun pada tahun 1113 H/1714 M. Para pengunjung adalah mereka yang ingin melakukan ritual ziarah makam, biasanya datang pada hari Kamis dan Jum’at. Jumlah pengunjung mencapai puncaknya setiap tanggal 14 Sya’ban/ Ruwah di mana setiap tanggal itu diadakan acara Sya’banan atau lebih dikenal dengan istilah “Khol”, ziarah makam dibuka untuk umum setiap harinya. Pengunjung datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari Malaysia dan Brunei Darussalam. Jumlah pengunjung makam sulit untuk diketahui secara pasti, pada setiap Khol jumlah pengunjung bisa mencapai ribuan orang. Fasilitas yang tersedia bagi pengunjung di komplek makam ini adalah lahan parkir cukup luas, masjid, penginapan, rumah makan, pedagang souvenir, dan lain-lain.
       Di Kota Pekalongan terdapat beberapa tradisi, salah satunya adalah tradisi sedekah laut atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Nyadran” yang banyak pula dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat nelayan Kota Pekalongan setiap bulan Syuro sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil laut yang melimpah. Pada tradisi ini para nelayan bersama masyarakat mengadakan Ritual Sadranan dengan menghias kapal-kapal nelayan yang berisi sesaji antara lain kepala kerbau, aneka jajan pasar, wayang Dewi Sri dan Pandawa Lima, aneka mainan anak-anak, serta setelah melalui beberapa prosesi dan do’a selamatan kemudian dibawa ketengah laut untuk dilarung yang diawali pelarungan kepala kerbau oleh seorang tokoh spiritual. Isi perahu yang telah dilarung akan menjadi rebutan anak-anak nelayan dengan harapan mendapat barokah dari Allah SWT melalui barang-barang yang dilarung tersebut. Pada saat yang bersamaan diselenggarakan juga Ritual Pementasan Wayang Kulit dengan cerita Bedog Basu yang menceritakan terjadinya ikan di darat dam di laut, serta berbagai kegiatan lomba olahraga, kesenian dan kulirner ikan hasil tangkapan nelayan. Kemudian ada pula kesenian Sintren, yaitu kesenian tradisional masyarakat Pekalongan dan sekitarnya, yang merupakan sebuah tarian yang berbau mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dan Sulandono. Tersebut dalam kisah bahwa Sulandono adalah putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Kir Baurekso, akhirnya Raden Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan diantara keduanya masih terus berlangsung melalui alam ghoib. Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari memasukkan roh bidadari ketubuh Sulasih, pada saat itu pula Raden Sulandono yang sedang bertapa dipanggil roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan diantara Sulasih dan Raden Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan Sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari benar-benar masih dalam keadaan suci (perawan). Sinteren diperankan seorang gaadis yang masih suci, dibantu oleh pawangnya dan diiringi gending 6 orang sesuai Pengembangan tari sintren sebagai hiburan budaya maka dilengkapi dengan penari pendamping dan bador (lawak). Di dalam permainan kesenian rakyat pun Dewi Lanjar berpengaruh antara lain dalam permainan sintren, si pawang (dalang) sering mengundang roh Dewi Lanjar untuk masuk ke dalam permainan sintren. Bilamana hal itu dapat berhasil maka pemain sintren akan kelihatan lebih cantik dan dalam membawakan tarian lebih lincah dan mempesonakan. Kesenian Sintren ini sangat dikenal dan populer di daerah Pantura terutama Eks Karesidenan Pekalongan. Pada jaman dahulu acara ini digunakan untuk acara hiburan dan ajang komunikasi muda mudi untuk mencari jodoh, selain itu kesenian ini digunakan sebagai mediasi untuk meminta hujan. Sedangkan saat ini sintren masih sering dipentaskan pada hari-hari besar nasional serta untuk menyambut tamu resmi.
      Kota Pekalongan kaya dengan acara budaya tradisional. Tradisi ini tetap terpelihara secara turun temurun dalam kurun waktu yang panjang. Para wisatawan yang kebetulan berkunjung bertepatan dengan penyelenggaraan acara-acara tradisional ini, bisa ikut menyaksikan jalannya upacara yang cukup menarik dan unik. Beberapa acara tradisi ini diantaranya adalah Syawalan atau Krapyakan (lopis raksasa). Syawalan merupakan tradisi masyarakat Kota Pekalongan khususnya masyarakat Daerah Krapyak di bagian utara Kota Pekalongan, yang dilaksanakan pada setiap hari ketujuh sesudah Hari Raya Idul Fitri. Hal paling menarik dalam pelaksanaan tradisi ini adalah dibuatnya lopis raksasa yang ukurannya mencapai tinggi 2 meter diameter 1,5 meter dan berat mencapai 500 Kg. Setelah acara do’a bersama, lopis raksasa kemudian dipotong oleh Walikota Pekalongan dan dibagi-bagikan kepada para pengunjung. Para perngunjung biasanya berebut untuk mendapatkan Lopis tersebut yang maksudnya untuk mendapat berkah. Pembuatan Lopis dimaksudkan untuk mempererat tali silahturahmi antara masyarakat Krapyak dan dengan masyarakat daerah sekitarnya, hal ini diidentikkan dengan sifat Lopis yang lengket atau merekatkan. Masyarakat Krapyak juga biasanya menyediakan makanan ringan dan minuman secara gratis kepada para pengunjung. Jumlah pengunjung pada tradisi ini mencapai ribuan orang yang berasal dari seluruh Kota Pekalongan dan sekitarnya. Selain itu ada pula kesenian Samproh, merupakan kesenian tradisional yang bernafaskan islam, yang beranggotakan beberapa wanita dengan diiringi lantunan alat musik seperti rebana, Sedangkan Simtuduror juga merupakan kesenian tradisional yang bernafaskan Islam dengan menggunakan Rebana dan Jidor sebagai alat musiknya. Kesenian ini beranggotakan antara 15 orang - 20 orang, dengan diiringi musik mereka melantunkan puji-pujian atau sholawatan sebagai ungkapan syukur dan permohonan keselamatan dunia dan akhiran pada Allah SWT. Kesenian ini biasa digunakan pada saat pembukaan acara khajatan atau selamatan yang diselenggarakan oleh warga masyarakat Kota Pekalongan yang terkenal dengan ketaatannya dalam menjalankan perintah agama Islam. Satu lagi tradisi yang tidak ketinggalan dari Kota Pekalongan, yaitu tradisi Pek Chun. Pada hakekatnya hampir sama dengan Nyadran. Hanya saja, tradisi ini diselenggarakan oleh warga Tionghoa di Kota Pekalongan. Pada prinsipnya acaranya sama, hanya penyelenggara, isi perahu, dan waktunya yang berbeda. Tradisi Pek Chun dilaksanakan oleh masyarakat Tionghoa menurut kalender China pada perayaan tahun baru China atau Imlek. Acara yang mengiringi tradisi Pek Chun adalah pentas seni Barongsai dan kesenian masyarakat China lainnya serta makan bersama dan pelaksanaan berbagai lomba.

    SoftSkill :: Ilmu Budaya Dasar -- IBD sebagai Salah Satu MKDU

    Pendahuluan
           Mata kuliah IBD adalah salah satu mata kuliah wajib yang diberikan pada semester-semester awal di tingkat perguruan tinggi, yang menyangkut tentang nilai-nilai, kebudayaan, dan berbagai masalah yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-harinya. Diharapkan mata kuliah ini dapat menjadi semacam lingua franca atau bahasa pemersatu bagi para akademisi dari berbagai lapangan ilmiah. Dengan memiliki satu bekal yang sama diharapkan para akademisi dapat lebih lancar berkomunikasi. Kelancaran berkomunikasi ini selanjutnya akan memperlancar proses pembangunan dalam berbagai bidang yang ditangani oleh para cendikiawan dari berbagai lapangan keahlian.
          Dengan mendapat mata kuliah IBD ini mahasiswa diharapkan nantinya dapat memiliki latar belakang pengetahuan yang cukup luas tentang kebudaaan di Indonesia pada umumnya dan menimbulkan minat mendalaminya lebih lanjut, agar dengan demikian mahasiswa diharapkan turut mendukung dan mengembangkan kebudayaannya sendiri dengan kreatif. Salah satu sifat penting mata kuliah ini adalah bahwa IBD bukan pelajaran sastra, filsafat, ataupun suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Sesuai dengan namanya Ilmu Budaya Dasar, mata kuliah ini hanya memberikan dasar-dasar yang cukup kuat kepada mahasiswa untuk mencari hubungan antara segala segi kebudayaan dalam hubungan usaha yang terus mencari kebenaran, keindahan, dan kebebasan dalam berbagai bentuk, serta hubungannya dengan alam semesta, Tuhan, masyarakat, dan juga penemuan jati dirinya. Pendeknya dalam mencari hidup yang dirasanya lebih bermakna. Ini tentu menyangkut sikap moral yang diharapkan memperlengkapi mahasiswa dengan pengalaman luas yang padu yang akan membimbingnya kearah pembentukan ukuran-ukuran, rasa, dan nilai-nilai dengan tidak bergantung pada orang lain.
        Jadi secara singkat dapat dikatakan bahwa setelah mendapatkan mata kuliah IBD ini mahasiswa diharapkan:
    1.  Memperlihatkan minat dan kebiasaan dalam menyelidiki apa saja yang terjadi di sekitarnya dan di luar lingkungannya, serta menelaah apa yang dikerjakannya dan mengapa.
    2.  Sadar akan pola-pola nilai yang dianutnya serta bagaimana hubungan nilai-nilai ini dengan cara tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari.
    3.  Selalu memikirkan kembali dengan hati terbuka nilai-nilai yang dianutnya untuk mengetahui apakah dia secara berdiri sendiri dapat membenarkan nilai-nilai tersebut untuk dirinya sendiri.
    4.  Memiliki keberanian moral untuk mempertahankan nilai-nilai yang dirasanya sudah dapat diterimanya dengan penuh tanggungjawab dan sebaliknya menolak nilai-nilai yang tidak dibenarkannya.
         Latar belakang diberikannya IBD selain melihat konteks budaya Indonesia juga menyesuai dengan program pendidikan di perguruan tinggi dalam rangka menyempurnakan pembentukan sarjana. Selanjutnya pendidikan ini diharapkan dapat menghasilkan sarjana-sarjana yang mempunyai seperangkat pengetahuan yang terdiri atas:
    1.   Kemampuan Akademis
    adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara ilmiah, baik lisan maupun tulisan, menguasai peralatan analisis, maupun berpikir logis, kritis, sitematis, dan analitis, memiliki kemampuan konsepsional untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang dihadapi, serta mampu menawarkan alternatif pemecahannya.
    2.   Kemampuan Professional
    adalah kemampuan dalam bidang profesi tenaga ahli yang bersangkutan. Dengan kemampuan ini, para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang tinggi dalam bidang profesinya.
    3.   Kemampuan Personal
    adalah kemampuan kepribadian. Dengan kemampuan ini para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan sehingga mampu menunjukkan sikap, dan tingkah laku, dan tindakan yang mencerminkan kepribadian Indonesia, memahami dan mengenal nilai-nilai keagamaan, kemasyarakatan, dan kenegaraan, serta memiliki pandangan yang luas dan kepekaan terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia.
    Dengan seperangkat kemampuan yang dimiliki ini, lulusan perguruan tinggi diharapkan menjadi sarjana yang cakap, ahli dalam bidang yang ditekuninya, serta mau dan mampu mengabdikan keahliannya untuk kepentingan masyarakat.

    Pengertian Ilmu Budaya Dasar (IBD)
    Secara sederhana IBD adalah seperangkat pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Istilah IBD dikembangkan pertama kali di Indonesia sebagai pengganti istilah basic humanitiesm yang berasal dari istilah bahasa Inggris “The Humanities”. Adapun istilah humanities itu sendiri berasal dari bahasa latin yaitu humnus yang artinya manusia, berbudaya, dan halus. Dengan mempelajari the humanities diandaikan seseorang akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya, dan lebih halus. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa the humanities berkaitan dengan nilai-nilai manusia sebagai homo humanus atau manusia berbudaya. Agar manusia menjadi humanus, mereka harus mempelajari ilmu the humanities ini disamping tidak meninggalkan tanggungjawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri.
    Untuk mengetahui bahwa IBD termasuk kelompok pengetahuan budaya, terlebih dahulu perlu diketahui pengelompokan ilmu pengetahuan menurut Prof. Dr. Harsya Bactiar berikut yang dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar, yaitu:
    1.   Ilmu-ilmu Alamiah (Natural Scince)
    bertujuan untuk mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah. Caranya adalah dengan menentukan hukum yang berlaku mengenai keteraturan-keteraturan itu, kemudian dibuat analisis untuk menentukan suatu kualitas. Hasil analisis ini kemudian digeneralisasikan. Atas dasar ini lalu dibuat prediksi. Hasil penelitian 100 5 benar dan 100 5 salah.
    1.   Ilmu-ilmu sosial (Social Scince)
    bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antara manusia. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu alamiah. Tapi hasil penelitiannya tidak 100 5 benar, hanya mendekati kebenaran. Sebabnya ialah keteraturan dalam hubungan antara manusia initidak dapat berubah dari saat ke saat.
    1.   Pengetahuan Budaya (The Humanities)
    bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan kenyataan-kenyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti. Pengetahuan budaya (the humanities) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup keahlian (disiplin) seni dan filsafat. Keahlian inipun dapat dibagi-bagi lagi ke dalam berbagai bidang keahlian lain, seperti seni tari, seni rupa, seni musik, dan lain-lain.
    Ilmu Budaya Dasar / IBD (Basic Humanities) adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan perkataan lain IBD menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran serta kepekaan mahasiswa dalam mengkaji masalah masalah manusia dan kebudayaan. IBD sendiri pada dasarnya berbeda dengan pengetahuan budaya. Pengengetahuan budaya lebih kepada mengkaji masalah nilai-nilai manusia sebagai mahluk berbudaya (homo humanus). Sedangkan IBD bukan ilmu tentang budaya, melainkan mengenai pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan budaya.

    Tujuan Ilmu Budaya Dasar
    Penyajian mata kuliah ilmu budaya dasar tidak lain merupakan usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan demikian mata kuliah ini tidak dimaksudkan untuk mendidik ahli-ahli dalam salah satu bidang keahlian yang termasuk didalam pengetahuan budaya (the humanities) akan tetapi IBD semata-mata sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas wawasan pemikiran serta kemampuan kritikalnya terhadap nilai-nlai budaya, baik yang menyangkut orang lain dan alam sekitarnya, maupun yang menyangkut dirinya sendiri.
    Untuk bisa menjangkau tujuan tersebut IBD diharapkan dapat:
    1. Mengusahakan kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya, sehingga mereka lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka. Memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas pandangan mereka tentang masalah kemansiaan dan budaya serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kedua hal tersebut.
    2. Mengusahakan agar mahasiswa, sebagai calon pemimpin bagnsa dan Negara serta ahli dalam bidang disiplin masing-masing tidak jatuh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengkotakan disiplin yang ketat. Mengusahakan wahana komunikasi para akademisi agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain. Denganmemiliki satu bekal yang sama, para akademisi diharapkan akan lebih lancar dalam berkomunikasi.
    Ruang Lingkup Ilmu Budaya Dasar
    Bertitik tolak dari kerangka tujuan yang telah ditetapkan, dua masalah pokok bisa dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan ruang lingkup kajian mata kuliah IBD. Kedua masalah pokok itu antara lain:
    1. Berbagai aspek kehidupan manusia yang di dalamnya adalah persoalan dalam menjalankan hidup dan fenomena budaya yang berkembang, dalam hal ini bisa dikaji dengan melakukan pendekatan budaya.
    2. Hakekat manusia baik secara individu maupun kelompok, memiliki keanekaragaman kebudayaan pada zamannya serta ragam budaya di masing-masing daerah.
    Dari dua pokok permasalahan ini, maka secara tidak langsung telah menempatkan manusia sebagai bahan kajian IBD. Manusia sebagai individu yang kreatif dalam hal ini dijadikan obyek dalam menganalisis setiap fenomena budaya. Dalam perkembangannya kajian ini melihat berbagai dimensi yang dilakukan manusia, seperti, hubungan manusia dengan alam, dengan sesama manusia, nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan manusia serta hubungan manusia dengan penciptanya.
    Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya yang dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya (the humanities), baik dari segi masing-masing keahlian (disiplin), maupun secara gabungan (antarbidang) berbagai disiplin di dalam pengetahuan budaya.
    Menunjuk kedua pokok masalah yang dikaji dalam mata kuliah IBD, nampak dengan jelas bahwa manusia menempati posisi sentral dalam pengkajian. Manusia tidak hanya sebagai obyek pengkajian. Bagaimana hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesama, dengan alam, dan dengan Sang Pencipta menjadi tema sentral dalam IBD. Adapun pokok-pokok bahasan yang dikembangkan antara lain:
    1. Manusia dan Cinta Kasih
    2. Manusia dan Keindahan
    3. Manusia dan Penderitaan
    4. Manusia dan Keadilan
    5. Manusia dan Pandangan Hidup
    6. Manusia dan Tanggungjawab serta Pengabdian
    7. Manusia dan Kegelisahan
    8. Manusia dan Harapan

    Wednesday, December 14, 2011

    SoftSkill :: Ilmu Sosial Dasar -- Individu, Keluarga, dan Masyarakat

    I.         PEMAHAMAN TENTANG INDIVIDU, KELUARGA, DAN MASYARAKAT
      A.   INDIVIDU
    Kata “ individu” berasal dari Bahasa Latin, yaitu individuum, berarti “yang tak terbagi”, yang merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Dengan kata lain, individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia perorangan.
    Individu didefinisikan sebagai seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas di dalam lingkungan sosialnya, tetapi juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku dirinya yang spesifik. Terdapat 3 aspek yang melekat sebagai persepsi terhadap individu, yaitu aspek organik-jasmaniah, aspek psikis-rohaniah, dan aspek sosial, yang apabila terjadi kegoncangan pada salah satu aspek akan membawa akibat pada aspek yang lainnya.

    Pertumbuhan Individu
    Pertumbuhan individu yang wajar dan normal harus melalui proses perkembangan lahir dan batin yang seimbang di antara keduanya, dimana perkembangan yang dimaksud merujuk pada perubahan-perubahan yang terjadi menuju ke arah yang lebih dewasa dan maju, baik jiwa maupun raganya.
    Menurut beberapa sumber yang ada, hingga saat ini terdapat 3 aliran konsep pertumbuhan individu yang dianut oleh para ahli dari berbagai belahan dunia, yaitu:
    1.             Aliran Asosiasi
    Pertumbuhan merupakan suatu proses asosiasi, yaitu terjadinya perubahan pada individu secara bertahap dikarenakan adanya pengaruh, baik dari pengalaman luar melalui panca indera yang menimbulkan sensasi-sensasi maupun pengalaman dalam mengenal batin sendiri yang menimbulkan refleksi-refleksi.
    2.             Aliran Psikologi Gestalt
    Pertumbuhan adalah proses diferensiasi, yaitu proses perubahan secara perlahan-lahan pada manusia dalam mengenal sesuatu. Pertama-tama mengenal secara keseluruhan, baru kemudian mengenal bagian demi bagian dari lingkungan yang ada.
    3.             Aliran Sosiologi
    Pertumbuhan merupakan proses perubahan dari sifat mula-mula yang asosial dan sosial yang kemudian tahap demi tahap disosialisasikan.

    Faktor-Faktor Pengaruh Pertumbuhan Individu
    Berikut beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan individu menurut beberapa pemahaman yang ada:
    1.        Menurut Paham Nativistik, pertumbuhan individu semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir.
    2.          Menurut Paham Empiristik dan Envinronmentalistik, pertumbuhan individu semata-mata tergantung kepada lingkungan sedangkan dasar (faktor bawaan lahir) tidak berperanan sama sekali.
    3.       Menurut Paham Konvergensi dan Interaksionisme, interaksi antara dasar dan lingkungan dapat menentukan pertumbuhan individu.
    4.          Beberapa paham lainnya menyebutkan bahwa pertumbuhan individu semata-mata ditentukan oleh kondisi psikologi individu itu sendiri.

    Tugas Dasar Individu
    Individu pada dasarnya memiliki tugas terhadap dirinya sendiri, antara lain:
    1.     Menuntut ilmu pengetahuan, merekayasa teknologi serta memanfaatkannya untuk kemakmuran dan kesejahteraan. Kesadaran tersebut mendorongnya untuk terus belajar. Proses belajar berarti proses perubahan sikap dan perilaku dengan mendapatkan pengalaman dan pelatihan.
    2.       Menghiasi diri dengan budi pekerti yang baik serta akhlak yang terpuji, dimana setiap tindakan dan perbuatan yang dilakukan selalu bercermin pada keindahan dan keelokan budi pekerti sehingga akan tercipta kesejukan dalam kehidupan.

      B.   KELUARGA
    Kata “keluarga” berasal dari Bahasa Sansekerta, yaitu kula dan warga “kulawarga” yang berarti “anggota” atau “kelompok kerabat”. Dalam arti lain, keluarga menjadi suatu wadah atau lingkungan di mana beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah, bersatu.
    Menurut Sigmund Freud, keluarga terbentuk karena adanya perkawinan pria dan wanita. Sedangkan menurut Durkheim, keluarga adalah lembaga sosial sebagai hasil dari faktor-faktor politik, ekonomi, dan lingkungan. Beberapa ahli lainnya mendefinisikan Keluarga sebagai unit satuan terkecil yang terdapat di masyarakat.
    Secara umum dapat dikatakan bahwa keluarga merupakan sekelompok orang yang saling terikat satu sama lain karena adanya hubungan darah dan perkawinan, yang terdiri dari:
    1.            Keluarga inti/batih (nuclear family), yaitu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak.
    2.          Keluarga tua (extended family), yaitu keluarga kekerabatan yang terdiri dari beberapa keluarga inti/batih yang saling terikat oleh hubungan orang tua anak atau saudara sekandung , yang tinggal bersama di suatu tempat yang besar.
    3.         Keluarga individu, yaitu keluarga yang dapat disebut pula dengan keluarga inti/batih yang belum lengkap dikarenakan keluarga ini hanya terdiri dari individu keturunan saja yang belum melakukan pernikahan.

    Fungsi Keluarga
    Secara umum fungsi keluarga meliputi:
    1.             Pengaturan Seksual
    Dapat dibayangkan apabila tidak ada keluarga maka akan terjadi seks bebas yang diakibatkan tidak adanya pengaturan seksual. Oleh karena itu, disinilah fungsi keluarga muncul untuk mengatur seksual yang tidak dapat dikontrol sehingga tidak ada lagi kelahiran di luar nikah.
    2.             Reproduksi
    Keluarga berfungsi untuk membentuk keturunan. Banyak yang berpandangan bahwa banyak anak akan menambah beban hidup, namun tidak sedikit pula yang mengharapkan banyak anak untuk jaminan bagi orang tua di masa depan.
    3.             Sosialisasi
    Sebelum bersosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat yang ruang lingkupnya lebih luas, perlu halnya kita bersosialisasi terlebih dahulu dalam keluarga agar terbentuk kepribadian yang mantap, serta sikap, perilaku, dan tanggapan emosi yang baik dan terkontrol, sehingga ketika bermasyarakat dapat diterima dengan baik.
    4.             Kontrol Sosial
    Fungsi lain dari keluarga yaitu memberikan pembekalan berupa suatu sistem nilai kepada individu pada masa pertumbuhan menjadi dewasa sebagai semacam tuntunan untuk mengarahkan aktivitasnya dalam masyarakat yang berfungsi pula sebagai tujuan akhir pengembangan kepribadiannya.

      C.   MASYARAKAT
    Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup atau semi terbuka, dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam Bahasa Arab, yaitu “syaraka” yang berarti “ikut berpartisipasi”. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antarentitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen, yaitu saling tergantung satu sama lain. Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
    Peter L. Berger, seorang ahli sosiologi mendefinisikan masyarakat sebagai suatu keseluruhan kompleks hubungan manusia yang bersifat luas. Sedangkan Koentjaraningrat dalam tulisannya menyatakan bahwa masyarakat adalah sekumpulan manusia atau kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Dalam psikologi sosial, masyarakat dinyatakan sebagai sekelompok manusia dalam suatu kebersamaan hidup dan dengan wawasan hidup yang bersifat kolektif, yang menunjukkan keteraturan tingkah laku warganya guna memenuhi kebutuhan dan kepentingan masing-masing. Menilik kenyataan di lapangan, suatu masyarakat bisa berupa suatu suku bangsa, atau bisa pula berlatar belakang dari berbagai suku.
    Berdasarkan taraf perkembangannya, masyarakat dapat digolongkan ke dalam 2 kelompok, yaitu:
    1.             Masyarakat Sederhana
    Dalam lingkungan masyarakat sederhana (primitive), pola pembagian kerja cenderung dibedakan menurut jenis kelamin. Pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin ini nampaknya berpangkal tolak dari latar belakang adanya perbedaan kemampuan fisik antara pria dan wanita dalam menghadapi tantangan-tantangan alam yang buas pada saat itu.
    2.             Masyarakat Maju
    Masyarakat maju memiliki aneka ragam kelompok sosial, atau lebih dikenal dengan sebutan kelompok organisasi kemasyarakatan yang tumbuh dan berkembang berdasarkan kebutuhan serta tujuan tertentu yang akan dicapai. Dalam lingkungan masyarakat maju, dibedakan lagi menjadi 2 kelompok, antara lain:
    a.             Masyarakat Non-Industri
    Secara garis besar, kelompok ini dapat digolongkan menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok primer dan kelompok sekunder. Dalam kelompok primer, interaksi antaranggotanya terjadi lebih intensif, lebih erat, dan lebih akrab. Kelompok ini disebut juga kelompok face to face group. Sifat interaksi bercorak kekeluargaan dan lebih berdasarkan simpati. Pembagian kerja atau pembagian tugas pada kelompok ini dititik beratkan pada kesadaran, tanggung jawab para anggotanya dan berlangsung atas dasar rasa simpati dan secara sukarela. Dalam kelompok sekunder terpaut hubungan tidak langsung, formal, dan kurang bersifat kekeluargaan. Oleh karena itu, sifat interaksi dan pembagian kerja, diatur atas dasar pertimbangan-pertimbagnan rasional obyektif. Para anggota menerima pembagian kerja atas dasar kemampuan/keahliannya masing-masing, disamping dituntut target dan tujuan tertentu yang telah ditentukan.
    b.            Masyarakat Industri
    Pada kelompok masyarakat ini, pembagian kerja didasarkan pada kepandaian/keahlian khusus yang dimiliki anggotanya secara mandiri, sampai pada batas-batas tertentu. Sebagai contohnya adalah tukang roti, tukang sepatu, tukang bubut, tukang las, dan lain sebagainya.

    II.     HUBUNGAN ANTARA INDIVIDU, KELUARGA, DAN MASYARAKAT
    Individu, keluarga, dan masyarakat merupakan aspek-aspek sosial yang tidak bisa dipisahkan. Ketiganya mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Seperti yang telah diketahui bersama bahwa tidak akan pernah ada keluarga tanpa ada individu. Demikian pula dengan masyarakat yang tidak akan pernah terbentuk tanpa adanya individu dan keluarga. Sementara di sisi lain, untuk mengembangkan eksistensinya sebagai manusia, individu membutuhkan keluarga dan masyarakat sebagai media untuk membentuk karakter dan mengekspresikan dirinya.
    Lingkungan sosial yang pertama kali dijumpai individu dalam hidupnya adalah lingkungan keluarga. Di dalam keluargalah individu mengembangkan kapasitas pribadinya. Di samping itu, melalui keluarga pulalah individu bersentuhan dengan berbagai gejala sosial, dalam hal ini adalah kehidupan bermasyarakat, dalam rangka mengembangkan kapasitasnya sebagai anggota keluarga. Sementara itu, masyarakat merupakan lingkungan sosial individu yang lebih luas daripada keluarga. Di dalamnya, individu menjewantahkan apa saja yang sudah dipelajari dari lingkungan keluarganya.

    Tuesday, November 15, 2011

    Algoritma & Pemrograman 1C* :: Konsep Bahasa Pemrograman

             Sebelum mulai membahas mengenai konsep dasar pemrograman dan lainnya, terlebih dahulu akan dijelaskan seputar bahasa pemrograman dengan maksud untuk lebih mempermudah dalam pembahasan selanjutnya.

    Definisi Bahasa Pemrograman
    Bahasa Pemrograman yaitu prosedur atau tata cara penulisan program, dimana di dalamnya terdapat 2 faktor penting, yaitu sintaks*) dan semantik**).
    *) Sintaks adalah aturan gramatikal atau komposisi suatu program yang mengatur tata cara penulisan huruf, angka, dan karakter lain. Contohnya pada pembuatan program Pascal, antara 2 statemen dipisahkan oleh titik koma (;) :
    X :=  1 ; X := X + 1
    **) Semantik : mendefinisikan arti dari program yang benar secara sintaks dari bahasa pemrograman tersebut. Contohnya pada pembuatan program C :
    Int vector [10]
    :: Arti semantiknya yaitu akan menyebabkan ruang sebanyak 10 elemen integer untuk diberikan kepada variable bernama vektor (0 – 9 untuk array dalam C).

    Fungsi Bahasa Pemrograman
    Bahasa pemrograman berfungsi sebagai alat komunikasi antara pemrogram (programmer) dengan komputer, dimana pemrogram menyuruh komputer untuk mengolah data sesuai dengan alur pikir yang diinginkan oleh pemrogram.

    Klasifikasi Bahasa Pemrograman
    Secara umum, bahasa pemrograman diklasifikasikan ke dalam 4 kelompok, antara lain :
    1.             Object Oriented Language (Bahasa Pemrograman Berorientasi Objek)
    Merupakan bahasa pemrograman yang membagi program menjadi beberapa objek yang nantinya dapat saling terhubung dan berinteraksi satu dengan yang lainnya.
             Contoh : Visual FoxPro, Visual C++, Delphi, Visual Basic, Java, Phyton, Ruby, Perl.
    2.             High Level Language (Bahasa Pemrograman Tingkat Tinggi)
    Merupakan bahasa pemrograman yang paling mudah dioperasikan karena instruksi-instruksinya sudah menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh manusia, seperti : START, END, IF, WHILE, FOR, AND, OR, dan lain sebagainya. Akan tetapi, program yang dihasilkan dengan bahasa pemrograman ini lebih lambat tingkat aksesnya dibandingkan dengan program yang dihasilkan dengan bahasa pemrograman tingkat rendah maupun menengah. Bahasa Pemrograman ini disebut juga bahasa pemrograman terstruktur.
             Contoh : BASIC, COBOL, Pascal, Fortran, ADA.
    3.             Middle Level Language (Bahasa Pemrograman Tingkat Menengah)
    Merupakan bahasa pemrograman yang menggunakan instruksi campuran dalam pengoperasiannya, yaitu instruksi dalam bahasa yang dimengerti oleh manusia (berupa huruf-huruf ataupun kata) dan instruksi yang bersifat simbolik, seperti : {, }, ?, <<, >>, &&, ||, dan lain sebagainya. Jika dibandingkan dengan program yang dihasilkan dengan bahasa pemrograman tingkat tinggi, program yang dihasilkan dengan bahasa pemrograman ini lebih unggul dalam kecepatan aksesnya.
             Contoh : Bahasa C.
    4.             Low Level Language (Bahasa Pemrograman Tingkat Rendah)
    Merupakan bahasa pemrograman yang paling sulit dipelajari karena instruksi-instruksi yang digunakan jauh berbeda dengan bahasa manusia pada umumnya. Bahasa pemrograman ini memakai kode-kode singkat, yaitu kode mnemonic,  seperti : MOV, SUB, CMP, JMP, JGE, JL, LOOP, dan lain sebagainya. Untuk dapat mengoperasikannya saja dibutuhkan logika yang cukup rumit dan pemahaman betul. Walaupun demikian, program yang dihasilkan dengan bahasa pemrograman ini  memiliki kecepatan akses terbaik di antara yang lainnya.
             Contoh : Bahasa Assembly.

    Kriteria Bahasa Pemrograman
    Seorang pemrogram akan memilih bahasa pemrogramannya jika merasa bahwa bahasa pemrograman tersebut bagus dan mudah untuk digunakan. Berikut beberapa kriteria untuk penilaian terhadap suatu bahasa pemrograman :
    1.             Ekspresifitas
    Bahasa pemrograman yang baik harus jelas dalam menggambarkan algoritma yang dibuat.
    2.             Definitas
    Definitas yang dimaksud yaitu dapat didefinisikan dengan baik dimana bahasa pemrograman dapat didefinisikan dari adanya sintak dan semantik. Baik sintak maupun semantik ini haruslah konsisten dan tidak bermakna ganda.
    3.             Mendukung Tipe dan Struktur Data
    Bahasa pemrograman yang baik harus memiliki kemampuan dalam hal mendukung berbagai tipe data, seperti : integer, string, dan real serta mendukung juga berbagai struktur data, seperti : array, record, dan file.
    4.             Modularitas
    Bahasa pemrograman yang baik harus memiliki fasilitas sub program. Program yang besar dapat dikerjakan oleh beberapa pemrogram secara bersama-sama yang nantinya dengan mudah dapat digabungkan menjadi sebuah modul saja.
    5.             Kemudahan, Kesederhanaan, dan Kesatuan (Clarity, Simplicity, and Unity)
    Bahasa pemrograman harus dapat menolong pemrogram dalam membuat sebuah desain program jauh sebelum pemrogram melakukan koding. Kemudahan, kesederhanaan, dan kesatuan inilah yang menjadi suatu kombinasi tepat yang dapat membantu pemrogram dalam mengembangkan suatu algoritma sehingga algoritma yang dihasilkan mempunyai kompleksitas yang rendah.
    6.             Ortogonalitas (Orthogonality)
    Merujuk pada suatu atribut yang dapat dikombinasikan dengan beragam fitur bahasa pemrograman sehingga setiap kombinasinya mempunyai arti dan dapat digunakan. Contohnya, suatu bahasa pemrograman mendukung suatu ekspresi yang dapat menghasilkan suatu nilai, dan bahasa pemrograman tersebut juga mendukung statemen kondisi yang mengevaluasi suatu ekspresi untuk mendapatkan nilai true dan false. Dua fitur dari bahasa pemrograman tersebut, yaitu ekpresi dan statemen kondisi, adalah ortogonal jika sembarang ekspresi dapat digunakan dan dievaluasi di dalam statemen kondisi. Ketika fitur bahasa pemrograman adalah ortogonal, maka bahasa pemrograman tersebut akan mudah dipahami dan dipelajari dan program akan mudah ditulis karena hanya ada sedikit exception dan case yang harus diingat.
    7.             Kewajaran untuk Sebuah Apikasi
    Kewajaran yang dimaksud adalah dimana bahasa pemrograman harus mempunyai struktur data, operasi-operasi, dan struktur kontrol serta sintaks yang tepat dan cocok yang digunakan pada struktur program untuk merefleksikan struktur logika yang melandasi suatu algoritma.
    8.             Efisiensi
    Efisiensi di sini mengandung maksud bahwa bahasa pemrograman yang baik dapat mengatur banyaknya instruksi program dengan batasan waktu tempuh pemrosesan tertentu di samping dapat mengatur jumlah memori yang digunakan program yang dihasilkan.
    9.             Bersifat Universal
    Bahasa pemrograman yang baik harus memiliki jangkauan yang luas untuk berbagai aplikasi pemrograman sehingga dapat bersifat serbaguna.
    10.         Mendukung Abstraksi
    Abstraksi merupakan suatu hal yang substansial bagi pemrogram untuk membuat suatu solusi dari masalah yang dihadapi. Kemudian abstraksi tersebut dapat dengan mudah diimplementasikan menggunakan fitur-fitur yang ada dalam bahasa pemrograman.
    11.         Kemudahan dalam Verifikasi Program
    Verifikasi program cukup penting bagi sebuah program,  karena dengan proses verifikasi yang mudah maka suatu program akan dengan mudah dibangun dan dikembangkan. Kesederhanaan struktur sintaks dan semantik merupakan aspek utama yang mempengaruhi kesederhanaan verifikasi program.
    12.         Lingkungan Pemrograman
    Bahasa pemrograman yang mempunyai lingkungan pemrograman yang baik dan lengkap akan memudahkan pemrogram untuk mengimplementasikan abstraksi yang sudah disusunnya. Lingkungan pemrograman di sini dapat berarti editor yang digunakan, dokumentasi yang baik dari bahasa pemrograman, fasilitas debugging, user interface yang baik, ataupun tool lain yang dapat digunakan untuk memudahkan pekerjaan pemrogram.
    13.         Portabilitas Program
    Salah satu kriteria penting lainnya adalah kemudahan program untuk dipakai di luar computer yang digunakan untuk membuat dan mengembangkannya.
    14.         Biaya
    Biaya merupakan elemen penting dalam mengevaluasi suatu bahasa pemrograman. Berikut beberapa biaya yang dimaksud :
    a.             Biaya Eksekusi Program
    Program yang sering dieksekusi akan membutuhkan suatu kode executable yang efisien sehingga cepat untuk dieksekusi. Semakin cepat suatu program dieksekusi maka akan semakin murah biaya eksekusi program.
    b.            Biaya Translasi/Kompilasi program
    Pada proses pembelajaran, translasi/kompilasi program lebih sering dilakukan daripada eksekusi program yang dihasilkan sehingga kecepatan translasi lebih diutamakan daripada kecepatan eksekusi. Oleh karena itu, lebih dibutuhkan compiler yang efisien dibanding kode executable yang efesien.
    c.             Biaya Pembuatan, Pengetesan, dan Penggunaan Program
    Semakin baik dan lengkap lingkungan pemrograman pada bahasa pemrograman maka ketiga biaya ini akan menjadi rendah. Hal ini disebabkan tidak banyaknya waktu dan tenaga serta pikiran yang dicurahkan ke pembuatan program.
    d.            Biaya Pemeliharaan Program
    Pembiayaan ini mencakup pada pemeliharaan program, termasuk perbaikan error yang muncul ketika program digunakan, perubahan yang dibutuhkan pada program ketika hardware atau sistem operasi berubah, maupun penyesuaian kebutuhan dengan kebutuhan yang baru. Pemeliharaan merupakan salah satu biaya terbesar dari life cycle cost dan merupakan suatu hal yang membosankan bagi pemrogram.

    A.            KONSEP DASAR PEMROGRAMAN
    Sebelum membahas lebih jauh dalam konteks konsep dasar pemrograman ini, terlebih dahulu perlu disampaikan definisi program dan pemrograman karena dalam pembahasan ke depan akan lebih sering menjumpai kedua kata tersebut.  Berikut definisi program dan pemrograman :
    :: Program
    Adalah serangkaian intruksi yang digunakan untuk mengatur komputer agar melakukan suatu tugas tertentu. Tanpa adanya program, sebenarnya komputer tidak dapat berbuat apa-apa karena pada dasarnya komputer hanyalah media atau alat yang digunakan untuk melakukan perhitungan-perhitungan dan serangkaian tugas yang dibebankan kepadanya.
    :: Pemrograman
    Adalah suatu rangkaian perintah ke komputer untuk melakukan/mengerjakan sesuatu, dimana instruksi tersebut menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh komputer yang lebih dikenal dengan bahasa pemrograman.

    Tipe Pemrograman
    Secara umum, terdapat 7 macam tipe pemrograman, antara lain :
    1.             Pemrograman Prosedural (Procedural Programming)
                Merupakan tipe pemrograman yang dalam pembuatan programnya melewati  serangkaian langkah-langkah yang tepat*1), terperinci*2), dan terbatas*3).
             *1)    : Langkah yang tepat artinya serangkaian langkah tersebut selalu benar untuk menyelesaikan masalah yang diberikan.
               *2)    : Langkah yang terperinci artinya setiap langkah diberikan secara detail dan dapat dieksekusi oleh komputer, instruksi seperti “angkat sedikit ke kiri” merupakan contoh instruksi yang tidak tepat karena “sedikit” tidak menyatakan sesuatu yang tepat/pasti.
    *3)   : Langkah yang diberikan harus terbatas, artinya suatu saat langkah harus berhenti, jika langkah tidak pernah berhenti (misalnya: “ambil air, masukkan ke bak mandi, ulangi ambil air, dan seterusnya”) maka serangkaian langkah itu tidak disebut sebagai algoritma (jika: “ambil air, masukkan ke bak mandi, ulangi ambil air sampai bak mandi penuh”, maka bisa disebut algoritma, namun langkah ambil air, masukkan ke bak mandi, harus diperinci).
    Contoh bahasa pemrograman yang termasuk di dalamnya : COBOL, BASIC, Pascal, C
    2.             Pemrograman Terstruktur (Structured Programming)
                Adalah tipe pemrograman yang mendukung pembuatan program sebagai kumpulan prosedur. Prosedur-prosedur ini dapat saling memanggil dan dipanggil dari manapun dalam program dan dapat mengunakan parameter yang berbeda-beda untuk setiap pemanggilan. Tipe pemrograman ini merupakan tipe pemrograman yang mendukung abstraksi data, pengkodean terstruktur dan kontrol program terstruktur.
           Contoh bahasa pemrograman yang termasuk di dalamnya : Pascal, COBOL, RPG, C, ADA.
    3.             Pemrograman Modular (Modular Programming)
                     Dalam tipe pemrograman ini, program dipecah-pecah ke dalam modul-modul, dimana setiap modul menunjukkan fungsi dan tugas tunggal. Dengan membagi program ke dalam modul-modul, maka program akan menjadi sederhana sehingga dapat lebih mudah disusun dan dipahami.
    4.             Pemrograman Fungsional (Functional Programming)
              Disebut tipe pemrograman fungsional karena memang pada program yang dibuat/dihasilkan seluruh kodenya hanya berupa fungsi-fungsi saja. Tipe pemrograman ini merupakan salah satu tipe pemrograman yang memberlakukan proses komputasi sebagai evaluasi fungsi-fungsi matematika.
             Contoh bahasa pemrograman yang termasuk di dalamnya : Lisp, Scheme, ML, Haskell.
    5.             Pemrograman Berorientasi Objek (Object-Oriented Programming)
                  Merupakan tipe pemrograman yang mampu memanfaatkan objek-objek*) yang tersedia menjadi program.
              *)  : Objek yaitu elemen yang memiliki fungsi, metode, atau karakteristik    tertentu yang dapat dibedakan dalam dunia nyata.
             Contoh bahasa pemrograman yang termasuk di dalamnya : Java, C++, SmallTalks.
    6.             Pemrograman Visual (Visual Programming)
                Merupakan tipe pemrograman yang menggunakan ekspresi visual, seperti : grafik, gambar, atau ikon dalam proses pemrograman dan mengacu pada aktivitas yang memungkinkan pengguna untuk membuat program dalam dua (atau lebih) dimensi untuk menggambarkan program, data, struktur, atau tingkah laku dinamis sistem yang kompleks.
    7.             Pemrograman Even-Driven (Even-Driven Programming)
                    Merupakan tipe pemrograman yang menggunakan konsep “jika sebuah aksi/perintah dilakukan terhadap sebuah objek, apa yang akan terjadi/dilakukan oleh objek tersebut selanjutnya”. Tipe pemrograman ini sangat fleksibel dalam pembuatan koding program karena sudah menggunakan konsep OOP dimana pemrograman dapat dimulai dari objek yang diinginkan tanpa harus berurutan.
           Contoh bahasa pemrograman yang termasuk di dalamnya : Visual Basic, Visual C++, Delphi.

    Sifat Penulisan Program
    Secara umum, terdapat 2 sifat dalam penulisan sebuah program, yaitu :
    1.             Program Oriented
                     Penulisan program yang struktur programnya selalu berubah, apabila kondisi data yang diproses di dalam program tersebut bertambah volume datanya. Selain itu penulisan program ini bersifat statis dan tidak fleksibel.
    2.             Data Oriented
                  Penulisan program yang struktur programnya tidak selalu berubah, walaupun volume data yang diproses di dalam program tersebut dalam jumlah besar. Selain itu pula penulisan program ini bersifat dinamis dan mempunyai tingkat fleksibilitas yang tinggi.

    B.            DATA
    Definisi Data
    Data yaitu bahan mentah yang akan diolah menjadi informasi sehingga dapat digunakan oleh user (pemakai).

    Tipe-Tipe Data
    Secara umum, terdapat 4 tipe data, yaitu :
    1.             Tipe Data Dasar
                Merupakan tipe data primitive yang tidak terstruktur yang didefinisikan oleh bahasa pemrograman.
                      Tipe data dasar ini dibagi menjadi 5 macam, antara lain :
    a.             Tipe Data Numerik
                    Yaitu tipe data yang ada pada setiap bahasa pemrograman yang berfungsi untuk menyimpan data berupa angka-angka.
                Tipe data numerik dibagi lagi menjadi 4, yaitu :
    1)            Integer : merupakan bilangan bulat positif dan negatif.
    2)            Real : merupakan bilangan desimal atau mantissa.
    3)          Subrange : merupakan subtipe dari tipe data integer dan terdiri dari urutan nilai-nilai integer dalam range yang terbatas.
    4)     Fixed-Point Real : merupakan bilangan yang direpresentasikan dengan urutan digit yang mempunyai panjang tetap dengan titik desimal diposisikan di tempat yang diberikan antara 2 digit.
    b.            Tipe Data Boolean
    Yaitu tipe data yang berfungsi untuk mempresentasikan nilai true atau false (biasa digunakan dalam penyeleksian kondisi).
    c.             Tipe Data Character
    Yaitu tipe data berupa sebuah karakter yang ditulis di antara tanda petik tunggal atau ganda (‘ atau “) tergantung dari bahasa pemrograman yang digunakan.
    d.            Tipe Data String
    Yaitu tipe data yang berupa urutan-urutan dari karakter yang terletak di antara tanda petik tunggal atau ganda (‘ atau “) tergantung dari bahasa pemrograman yang digunakan.
    e.             Tipe Data Internationalization
    Yaitu tipe data yang disebut juga dengan I18N.
    2.             Tipe Data Terstruktur
                      Merupakan tipe data campuran dari berbagai tipe data dasar.
              Contoh : Array, Record, String, List, dan File.
    3.             Tipe Data Non Standar/Enumerasi (User Defined)
                     Merupakan tipe data yang memiliki elemen-elemen tertentu dari nilai konstanta integer sesuai dengan urutannya. Pada tipe data ini elemen masukan diwakili oleh suatu nama variabel yang ditulis di dalam kurung.
    Contoh : Indeks_Hari = (Nol, Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu)
    4.             Tipe Data Petunjuk (Pointer)
                  Adalah tipe data yang digunakan untuk menyimpan alamat memori sebuah variabel, bukan menyimpan nilai datanya.

    C.            MODEL KOMPUTASI
    Ada 3 model dasar komputasional, yaitu fungsional, logika, dan imperatif. Sebagai tambahan terhadap satuan nilai-nilai dan operasi yang berhubungan, masing-masing model komputasional mempunyai satu set operasi yang digunakan untuk menggambarkan komputasi. Berikut penjelasan mengenai ketiga model dasar komputasional tersebut :
    1.             Model Fungsional
                   Model komputasional ini terdiri dari satu set nilai-nilai, fungsi-fungsi dan operasi aplikasi fungsi dan komposisi fungsi. Fungsi dapat mengambil fungsi lain sebagai argumentasi dan mengembalikan fungsi sebagai hasil (higher-order function). Suatu program adalah koleksi definisi fungsi-fungsi dan suatu komputasi adalah aplikasi fungsi.
    2.             Model Logika
                   Model komputasional ini terdiri dari satu set nilai-nilai, definisi hubungan dan kesimpulan logis. Program terdiri dari definisi hubungan dan suatu komputasi adalah suatu bukti (suatu urutan kesimpulan).
    3.             Model Imperatif
                  Model komputasional ini terdiri dari satu set nilai-nilai yang mencakup suatu keadaan dan operasi tugas untuk memodifikasi pernyataan. Pernyataan adalah set pasangan nilai-nama dari konstanta dan variabel. Program terdiri dari urutan tugas dan suatu komputasi terdiri dari urutan pernyataan.

    D.            PRINSIP DESAIN BAHASA PEMROGRAMAN
    Suatu bahasa pemrograman harus dirancang untuk memudahkan pemrogram dalam membaca dan menulisnya di samping efisiensinya pada saat digunakan di perangkat keras yang tersedia.
    Berikut prinsip-prinsip yang memudahkan pemrogram dalam membaca dan menulis suatu bahasa pemrograman :
    1.             Prinsip Kesederhanaan
               Yaitu dimana bahasa pemrograman yang digunakan harus didasarkan atas kesederhanaan, dalam hal ini tidak terlalu ribet dalam pengoperasiannya.
    2.             Prinsip Ortogonal
                      Yaitu dimana fungsi mandiri harus dikendalikan oleh mekanisme mandiri.
    3.             Prinsip Keteraturan
                  Yaitu dimana sebuah set objek yang disebut reguler berkenaan dengan beberapa kondisi jika, dan hanya jika, kondisi-kondisi tersebut dapat digunakan untuk masing-masing unsur set. Prinsip ini memerlukan konsep dasar bahasa yang harus diterapkan secara konsisten dan bersifat universal.
    4.             Prinsip Ekstensibilitas
                   Yaitu dimana object baru dari tiap kelas sintaktis dibangun (digambarkan) dari dasar dengan suatu cara yang sistematis. Seperti halnya prinsip keteraturan, prinsip ini juga memerlukan konsep dasar bahasa yang harus diterapkan secara konsisten dan bersifat universal.