Saturday, April 14, 2012

SoftSkill :: Ilmu Budaya Dasar -- Manusia dan Keindahan

                             
Kata keindahan berasal dari kata indah, yang artinya bagus, permai, cantik, elok, molek  dan  sebagainya.  Keindahan  identik  dengan   kebenaran.  Keindahan adalah kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah. Keindahan juga bersifat universal, artinya tidak terikat oleh selera perseorangan, waktu dan tempat, kedaerahan, selera mode, kedaerahan atau lokal. Sebenarnya sulit bagi kita untuk menyatakan apakah keindahan itu. Keindahan itu suatu konsep abstrak yang tidak dapat dinikmati karena tidak jelas. Keindahan itu baru jelas jika telah dihubungkan dengan sesuatu yang berwujud atau suatu karya. Dengan kata lain keindahan itu baru dapat dinikmati jika   dihubungkan   dengan   suatu   bentuk.   Dengan   bentuk   itu   keindahan berkomunikasi. Menurut cakupannya orang harus membedakan keindahan sebagai suatu kualitas  abstrak  dan  sebagai  sebuah  benda  tertentu  yang  indah.  Untuk pembedaan  itu  dalam  bahasa  Inggris  sering  dipergunakan  istilah “beauty” (keindahan) dan “the beautiful” (benda atau hal indah). Dalam pembatasan filsafat, kedua pengertian ini kadang-kaang dicampuradukkan saja. Di samping itu, terdapat pula perbedaan pengertian dari keindahan itu sendiri, antara lain:
1.       Keindahan dalam arti luas
2.       Keindahan dalam arti estetis murni
3.       Keindahan dalam arti terbatas dalam pengertiannya dengan penglihatan
Keindahan alam arti luas merupakan pengertian semula dari bangsa Yunani dulu yang didalamnya tercakup pula kebaikan. Plato misalnya menyebut tentang   watak   yang   indah   dan   hukum   yang   indah,   sedang   Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang selain baik juga menyenangkan. Plotinus menulis tentang ilmu yang indah, kebajikan yang indah. Orang Yunani dulu berbicara juga tentang buah pikiran yang indah dan adapt kebiasaan yang indah. Tapi bangsa Yunani juga mengenal keindahan dalam arti estetis yang disebutnya “symetria” untuk keindahan berdasarkan penglihatan dan harmonia untuk keindahan berdasarkan pendengaran. Jadi pengertian keindahan seluas-luasnya  meliputi :  keindahan  seni,  keindahan  alam,  keindahan  moral  dan keindahan intelektual.
Keindahan dalam arti estetik murni menyangkut pengalaman estetis dari seseorang  dalam hubungannya  dengan  segala  sesuatu  yang  dicerapnya. Sedang  keindahan  dalam  arti  terbatas  lebih disempitkan  sehingga  hanya menyangkut benda-benda yang dicerapnya dengan penglihatan, yakni berupa keindahan dari bentuk dan warna.

SoftSkill :: Ilmu Budaya Dasar -- Manusia dan Cinta Kasih


1.          Definisi Cinta Kasih
Cinta kasih bersumber pada ungkapan perasaan yang didukung oleh unsur karsa, yang dapat berupa tingkah laku dan pertimbangan dengan akal yang menimbulkan tanggung jawab. Dalam cinta kasih tersimpul pula rasa kasih sayang dan kemesraan. Belas kasihan dan pengabdian. Cinta kasih yang disertai dengan tanggung jawab menciptakan keserasian, keseimbangan, dan kedamaian antara sesama manusia, antara manusia dengan lingkungan, dan antara manusia dengan Tuhan.
Cinta kasih bersumber pada ungkapan perasaan yang didukung oleh unsur karsa, yang dapat berupa tingkah laku dan pertimbangan dengan akal yang menimbulkan tanggung jawab. Dalam cinta kasih tersimpul pula rasa kasih sayang dan kemesraan. Belas kasihan dan pengabdian. Cinta kasih yang disertai dengan tanggung jawab menciptakan keserasian, keseimbangan, dan kedamaian antara sesama manusia, antara manusia dengan lingkungan, dan antara manusia dengan Tuhan.
Apabila dirumuskan secara sederhana, cinta ksih adalah perasaan kasih sayang, kemesraan, belas kasihan dan pengabdian yang diungkapkan dengan tingkah laku yang bertanggung jawab. Tanggung jawab artinya akibat yang baik, positif, berguna, saling menguntungkan, menciptakan keserasian, keseimbangan, dan kebahagiaan.

2.          Macam Cinta Kasih
Adanya beberapa macam cinta kasih, yaitu sebagai berikut :
a.      Cinta kasih antara orang tua dan anak
Orang tua yang memperhatikan dan memenuhi kebutuhan anaknya, berarti mempunyai rasa cinta kasih terhadap anak. Mereka selalu mengharapkan agar anaknya menjadi orang baik dan berguna di kemudian hari.
b.      Cinta kasih antara pria dan wanita
Seseorang pria menaruh perhatian terhadap seorang gadis dengan perilaku baik, lemah lembut, sopan, apalagi memberikan seuntai mawar merah, berarti ia menaruh cinta kasih terhadap gadis itu.
c.       Cinta kasih antara sesama manusia
Apabila seorang sahabat berkunjung ke rumah kawannya yang sedang sakit dan membawa obat kepadanya berarti bahwa sahabat itu menaruh cinta kasih terhadap kawannya yang sakit itu.
d.      Cinta kasih antara manusia dan Tuhan
Apabila seorang taat beribadah, menurut perintah Tuhan, dan menjauhi larangan-Nya, orang itu mempunyai cinta kasih kepada Tuhan penciptanya.
e.       Cinta kasih manusia terhadap lingkungannya
Apabila seseorang menciptakan taman yang indah, memelihara taman pekarangan, tidak menebang kayu di hutan seenaknya, menanam tanah gundul dengan teratur, tidak berburu hewan secara semena-mena atau dikatakan bahwa orang itu menaruh cinta kasih atau menyayangi lingkungan hidupnya.

3.          Ungkapan Cinta Kasih
Cinta kasih adalah ungkapan perasaan yang diwujudkan dengan tingkah laku, seperti dengan kata-kata, tulisan, gerak, atau media lainnya. Ungkapan dengan kata-kata atau pernyataan, misalnya ungkapan. Aku cinta padamu. Ungkapan dengan tulisan, misalnya surat cinta, surat ibu kepada putrinya. Ungkapan dengan gerak, misalnya salaman, pelukan, ciuman dan rangkulan. Ungkapan dengan media, misalnya setangkai bunga, benda suvenir dan benda kado. Ungkapan-ungkapan ini selain dalam bentuk nyata, juga dalam bentuk karya budaya. Misalnya seni suara, seni sastra, seni drama, film, dan seni lukis.
Orang yang mempunyai perasaan cinta kasih, hidupnya penuh gairah, banyak inisiatif, dan penuh kreatif. Bagi seniman perilaku cinta kasih dituangkan dalam bentuk karya budaya sehingga dapat dinikmati pula oleh masyarakat. Dengan demikian, masyarakat dapat memetik nilai-nilai kemanusiaan yang terungkap melalui karya budaya itu.

SoftSkill :: Ilmu Budaya Dasar -- Konsepsi IBD dalam Kesusastraan


A.      Pendekatan Kesusastraan
Ilmu Budaya Dasar (IBD), yang semula dinamakan Basic Humanities, berasal dari bahasa Inggris, yaitu the humanities. Istilah ini berasal dari bahasa latin “Humanus”, yang berarti manusiawi, berbudaya, dan halus. Dengan mempelajari the humanities, orang akan menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya, dan lebih halus. Jadi the humanities berkaitan dengan masalah nilai, yaitu nilai kita sebagai homo humanus.
Untuk menjadi homo humanus, manusia harus mempelajari suatu ilmu, yaitu the humanities, di samping harus melaksanakan tanggung jawabnya yang lain. Apa yang dimasukkan ke dalam the humanities ini masih diperdebatkan, dan kadang-kadang disesuaikan dengan keadaan dan waktu. Pada umumnya, the humanities mencakup filsafat, teologi, seni dan cabang-cabangnya, termasuk sastra, sejarah, cerita rakyat, dan lain sebagainya. Pada intinya semua mempelajari masalah manusia dan budaya. Karena itu ada yang menerjemahkan the humanities menjadi ilmu-ilmu kemanusiaan dan ada pula yang menerjemahkannya mengjadi pengetahuan budaya.
Hampir di setiap zaman, seni, termasuk sastra, memegang peranan lebih penting dalam penerapan the humanities jika dibandingkan dengan yang lainnya. Hal ini terjadi karena seni, termasuk sastra itu sendiri merupakan ekspresi dari nilai-nilai kemanusiaan. Alasan pertama, karena sastra mempergunakan bahasa. Sementara itu, bahasa mempunyai hubungan yang sangat erat dengan  hampir semua aktivitas manusia. Dengan sastra, manusia menjadi lebih mudah dalam berkomunikasi karena pada hakekatnya sastra adalah penjabaran abstraksi, lebih dari sekedar filsafat yang hanya bersifat abstraksi sehingga menyebabkan kurangnya aktivitas komunikasi.
Seiring dengan cukup besarnya peranan dari seni, keberadaan seniman sebagai pencipta karya seni dan media penyampai nilai-nilai kemanusiaan juga dinilai sangat diperlukan. Kepekaannya menyebabkan dia mampu menangkap hal yang lepas dari pengamatan kebanyakan orang. Oleh karena itu, peran IBD di sini bukanlah sebagai mata kuliah yang dimaksudkan untuk mendidik ahli-ahli dalam salah satu bidang keahlian yang termasuk ke dalam pengetahuan budaya (the humanities), melainkan semata-mata sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas wawasan pemikiran serta kemampuan kritikalnya terhadap nilai-nilai budaya yang ada di lingkungannya.

B.      IBD yang dihubungkan dengan Prosa
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah Prosa yang terkadang disebut juga sebagai narrative fiction, prose fiction, atau hanya fiction saja ini diterjemahkan menjadi sebuah cerita rekaan dan didefinisikan sebagai suatu bentuk cerita atau prosa kisahan yang mempunyai pemeran, lakuan, peristiwa, dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi. Istilah cerita rekaan sendiri umumnya dipakai pada karya sastra roman, novel, atau cerita pendek (cerpen), yang secara tidak langsung menunjukkan adanya keterkaitan antara IBD dengan prosa.
Dalam kesusastraan Indonesia, Prosa dikelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu prosa lama dan prosa baru, di mana prosa lama adalah prosa yang belum terpengaruhi budaya barat, sedangkan prosa baru adalah prosa yang dikarang secara bebas tanpa aturan apapun.
Berikut bentuk-bentuk prosa lama dan prosa baru:
1.       Prosa Lama
a.       Dongeng
b.      Hikayat
c.       Sejarah
d.      Epos
e.      Cerita Pelipur Lara
2.       Prosa Baru
a.       Cerita Pendek (Cerpen)
b.      Roman
c.       Novel
d.      Biografi
e.      Kisah
f.        Otobiografi

C.      Nilai-nilai dalam Prosa Fiksi
Sebagai seni yang bertulang punggung cerita, prosa fiksi (karya sastra) secara langsung atau tidak mengandung nilai moral, pesan, atau cerita. Dengan kata lain, prosa fiksi mempunyai nilai-nilai yang diperoleh pembaca lewat sastra. Adapun nilai-nilai yang diperoleh pembaca lewat sastra tersebut antara lain:
1.       Prosa Fiksi Memberikan Kesenangan
Keistimewaan kesenangan yang diperoleh dari membaca fiksi adalah pembaca mendapatkan pengalaman sebagaimana mengalaminya sendiri peristiwa itu peristiwa atau kejadian yang dikisahkan. Pembaca dapat mengembangkan imajinasinya untuk mengenal daerah atau tempat yang asing, yang belum dikunjunginya atau yang tak mungkin dikunjungi selama hidupnya. Pembaca juga dapat mengenal tokoh-tokoh yang aneh atau asing tingkah lakunya atau mungkin nunit perjalanan hidupnya untuk mencapai sukses.
2.       Prosa Fiksi Memberikan Informasi
Fiksi memberikan sejenis infdrmasi yang tidak terdapat di dalam ensiklopedi. Dalam novel sexing kita dapat belajan sesuatu yang lebih daripada sejarah atau laporan jumalistik tentang kehidupan masa kini, kehidupan masa lalu, bahkan juga kehidupan yang akan datang atau kehidupan yang asing sama sekali.
3.       Prosa Fiksi Memberikan Warisan Kultural
Prosa fiksi dapat menstimuli imaginasi, dan merupakan sarana bagi pemindahan yang tak henti-hentinya dari warisan budaya bangsa. Novel-novel seperti Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Sengsara Membawa Nikmat, dan Layar Terkembang mengungkapkan impian-impian, harapan-harapan, dan aspirasi-aspirasi dari generasi terdahulu yang seharusnya dihayati oleh generasi kini.
4.       Prosa Fiksi Memberikan Keseimbangan Wawasan
Lewat prosa fiksi seseorang dapat menilai kehidupan berdasarkan pengalaman-pengalaman dengan banyak individu. Fiksi juga memungkinkan labih banyak kesempatan untuk memilih respon-respon emosional atau rangsangan aksi yang mungkin sangat berbeda daripada apa yang disajikan dalam kehidupan sendiri.
Adanya semacam kaidah kemungkinan yang tidak mungkin dalam fiksi inilah yang memungkinkan pembaca untuk dapat memperluas dan memperdalam persepsi dan wawasannya tentang tokoh, hidup dan kehidupan manusia. Dari banyak memperoleh pengalaman sastra, pembaca akan terbentuk keseimbangan wawasannya, terutama dalam menghadapi kenyataan-kenyataan di luar dirinya yang mungkin sangat berlainan dari pribadinya.

D.      IBD yang dihubungkan dengan Puisi
Pembahasan puisi dalam rangka pengajaran Ilmu Budaya Dasar tidak akan diarahkan pada tradisi pendidikan dan pengajaran sastra dan apresiasinya yang murni. Puisi digunakan sebagai media sekaligus sebagai sumber belajar sesuai dengan tema-tema atau pokok bahasan yang terdapat di dalam Ilmu Budaya Dasar.
Puisi termasuk seni sastra, sedangkan sastra bagian dari kesenian, dan kesenian sendiri merupakan cabang atau unsur dari kebudayaan. Apabila diberi batasan, maka puisi adalah ekspresi pengalaman jiwa penyair mengenai kehidupan manusia, alam, dan Tuhan melalui media bahasa yang artistic atau estetik, yang secara padu dan utuh dipadatkan kata-katanya.
Kepuitisan, keartistikan, atau keestetikan bahasa puisi disebabkan oleh kreativitas penyair dalam membangun puisinya dengan menggunakan :
1.       Figura bahasa ( figurative language ) seperti gaya personifikasi, metafora, perbandingan, alegori, dan sebagainya, sehingga puisi menjadi segar, hidup, menarik, dan memberi kejelasan gambaran angan.
2.       Kata-kata yang ambiquitas, yaitu kata-kata yang bermakna ganda (memiliki banyak tafsiran).
3.       Kata-kata berjiwa, yaitu kata-kata yang sudah diberi suasana tertentu, berisi perasaan dan pengalaman jiwa penyair sehingga terasa hidup dan memukau.
4.       Kata-kata yang konotatif yaitu kata-kata yang sudah diberi tambahan nilai-nilai rasa dan asosiasi-asosiasi tertentu.
5.       Pengulangan, yang berfungsi untuk mengintensifkan hal-hal yang dilukiskan, sehingga lebih menggugah hati.
Dibalik kata-katanya yang padat, ekonomis, dan sukar dicerna maknanya itu, puisi berisi potret kehidupan manusia. Puisi menyuguhkan kepada kita suasana-suasana dan peristiwa-peristiwa kehidupan manusia dan juga dalam kaitan kehidupannya dengan alam dan Tuhan, yang merupakan hasil penghayatan dan pengalaman penyair terhadap kehidupan manusia, alam, dan Tuhan yang diekspresikannya melalui bahasa yang artistik.
Adapun alasan-alasan yang mendasari penyajian puisi pada perkuliahan Ilmu Budaya Dasar adalah sebagai berikut :
1.       Hubungan puisi dengan pengalaman hidup manusia
Perekaman dan penyampaian pengalaman dalam sastra puisi disebut pengalaman perwakilan. Ini berarti bahwa manusia senantiasa ingin memiliki salah satu kebutuhan yang dasarnya untuk lebih menghidupkan pengalaman hidupnya lebih dari sekedar kumpulan pengalaman langsung yang terbatas. Dengan pengalaman perwakilan itu, puisi dapat memberikan kesadaran kepada para mahasiswa untuk dapat melihat dan mengerti banyak tentang dirinya sendiri dan tentang masyarakat.
Pendekatan terhadap pengalaman perwakilan itu dapat dilakukan dengan suatu kemampuan yang disebut "imaginative entry", yaitu kemampuan menghubungkan pengalaman hidup sendiri dengan pengalaman yang dituangkan penyair dalam puisinya.
2.       Hubungan puisi dengan kesadaran individual
Dengan membaca puisi mahasiswa dapat diajak untuk dapat menjenguk hati/pikiran manusia, baik orang lain maupun diri sendiri, karena melalui puisinya sang penyair menunjukkan kepada pembaca bagian dalam hati manusia.
3.       Hubungan puisi dengan keinsyafan sosial
Puisi juga memberikan kepada manusia tentang pengetahuan manusia sebagai mahluk sosial, yang terlibat dalam isu dan masalah sosial. Secara imaginative, puisi dapat menafsirkan situasi dasar manusia yang bisa berupa:
a.       Penderitaan atas ketidak adilan
b.      Perjuangan untuk kekuasaan
c.       Konflik dengan sesamanya
d.      Pemberontakan terhadap hukum Tuhan

Tuesday, April 10, 2012

SoftSkill :: Ilmu Budaya Dasar -- 9 Peringkat Vendor Laptop Terawet di Dunia Tahun 2011

Perkembangan teknologi informasi yang semakin mutakhir dewasa ini mengantarkan persaingan sengit antarperusahaan pemproduksi alat-alat teknologi dan komunikasi di dunia, salah satunya di bidang pemproduksian notebook personal computer (notebook PC) atau yang lebih dikenal dengan sebutan laptop. Perusahaan-perusahaan tersebut masing-masing berkomitmen dan berkompeten dengan berbagai inovasi jempolannya untuk dapat menarik minat para konsumen dunia agar mau membeli produknya, salah satunya dengan cara menawarkan kualitas dan fitur produk yang lebih unggul namun dengan harga yang relatif lebih hemat jika dibandingkan dengan yang lainnya. Dengan ‘trik’ demikian tentunya para konsumen menengah ke bawah akan lebih tertarik dan cenderung memilih produk tersebut di samping memertimbangkan segi keawetan dan kebesaran nama vendor pemroduksinya.
     Berbicara mengenai keawetan laptop, pada pertengahan bulan Agustus tahun 2011 lalu, SquareTrade, sebuah penyedia jaminan garansi untuk barang elektronik di Amerika, telah melakukan penelitian dan pengujian ketahanan/keawetan terhadap laptop-laptop hasil produksi 9 vendor laptop ternama dunia dengan masing-masing 1000 laptop per vendornya. Masing-masing laptop diuji daya tahannya dengan variabel waktu per 2 tahun dan 3 tahun. Hasil penelitian dan pengujian tersebut mengumumkan bahwa Asus menduduki peringkat pertama untuk vendor laptop terawet di dunia tahun 2011, disusul Toshiba diperingkat kedua dan Sony diperingkat ketiganya. Sayangnya, HP sebagai top vendor laptop pertama di dunia tahun 2011 mendapat predikat laptop yang paling mudah rusak dalam penelitian dan pengujian kali ini. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada grafik berikut ini:


Gambar Grafik Hasil Penelitian dan Pengujian Square Trade

Saturday, April 7, 2012

SoftSkill :: Ilmu Budaya Dasar -- Tutorial Cara Menjalankan Turbo Pascal di Windows XP, Vista, dan 7 64-Bit (x64)


Pernahkah Anda mendengar tentang Turbo Pascal?

Apa itu Turbo Pascal? Dan apa pula fungsinya?

Turbo Pascal merupakan salah satu bahasa pemrograman Pascal paling popular di dunia hingga saat ini. Perangkat lunak ini mulai dibuat oleh Borland International, Inc. pada tahun 1983 sebagai pengembangan dari perangkat-perangkat lunak sejenis lainnya yang sudah ada pada waktu itu. Dengan cara penggunaannya yang cukup mudah dan sederhana serta dapat digunakan secara cuma-cuma alias gratis (freeware), Turbo Pascal menjadi alternatif terbaik bagi masyarakat untuk dapat belajar bahkan membuat program sekalipun dengan basis bahasa pemrograman tingkat tinggi ini. Meskipun demikian, hingga versi terakhirnya yaitu versi 7.1 yang dirilis pada tahun 1997, bahasa pemrograman ini hanya dapat berjalan di Windows 32-Bit (x86), baik itu Windows XP, Vista, maupun 7.
Lalu bagaimana cara menyetting Turbo Pascal agar dapat berjalan di Windows 64-Bit (x64)?
Berikut langkah-langkah yang harus dilakukan*1):
  1. Persiapkan terlebih dahulu perangkat lunak bernama DOSBox. Perangkat lunak inilah yang akan kita fungsikan sebagai media perantara dalam menjalankan Turbo Pascal di Windows 64-Bit via DOS. Jika belum memiliki, Anda dapat men-download versi terbarunya DI SINI.
  2. Persiapkan pula perangkat lunak Turbo Pascal-nya. Jika belum memiliki, Anda dapat men-download versi terbarunya DI SINI.
  3. Setelah kedua perangkat lunak selesai dipersiapkan, langkah selanjutnya adalah melakukan instalasi untuk DOSBox-nya dan ekstraksi untuk Turbo Pascal-nya (klik kanan pada file >> pilih Extract Here), jika keduanya didapatkan dari men-download di BLOG INI. Untuk lebih mempermudah dalam melakukan penyettingan, Anda dapat meletakkan file-file ekstraksi Turbo Pascal-nya di drive C (C:\). Sekarang kita dapat memulai proses pengonfigurasian keduanya.
  4. Jalankan perangkat lunak DOSBox-nya. Setelah terbuka, ketikkan tulisan berikut pada jendela yang muncul:
MOUNT C C:\PASCAL      <enter>
..(akan muncul keterangan bahwa proses mount telah berhasil)..
C:                                  <enter>
TURBO.EXE                    <enter>

Sehingga akan menjadi seperti berikut:

Z:\>SET BLASTER=A220 I7 D1 H5 T6

Z:\>MOUNT C C:\PASCAL                               
Drive C is mounted as local directory C:\PASCAL\

Z:\C:                                                                      

C:\TURBO.EXE                                                   

Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar berikut:


  1. Jika berhasil, maka secara otomatis tampilan awal pada perangkat lunak Turbo Pascal akan segera muncul. Seperti pada gambar berikut ini:

  1. Klik OK atau tekan ENTER untuk memulai mengetikkan sintaks.
SELAMAT!! Sekarang Anda dapat menggunakan perangkat lunak Turbo Pascal di Windows 64-Bit Anda.

NB : + Lakukan hal yang sama setiap kali Anda ingin menggunakannya kembali.
    + Ketika akan menjalankan program, sebaiknya Anda menggunakan pointer untuk menuju perintah RUN, bukan dengan menekan Ctrl+F9, karena hal itu akan menyebabkan perangkat lunak Turbo Pascal tertutup sendiri secara otomatis.

*1) : Untuk memperoleh hasil yang diharapkan, saya merekomendasikan Anda untuk men-download perangkat lunak yang dibutuhkan di BLOG INI


Password MediaFire : choirul-amal.blogspot.com

Tuesday, March 27, 2012

SoftSkill :: Ilmu Budaya Dasar -- Manusia dan Kebudayaan :: Kebudayaan Kota Pekalongan

     KOTA PEKALONGAN - merupakan warisan budaya masa lalu yang pernah menjadi ibukota karesidenan pada zaman kolonial sampai dengan masa kemerdekaan yang mempunyai banyak peningalan-peninggalan bersejarah, seperti:  gedung pemerintahan pada masa colonial, kantor pembantu gubernur/residen, dan rumah dinas pembantu gubernur/residen. Selain itu, ada juga lembaga pemasyarakatan, kantor pelabuhan, kantor pos dan giro, stasiun kereta api, tempat ibadah (Masjid Kuno Jami’), Masjid Sapuro, klenteng, serta Rumah Pangeran Keputran, Rumah Pribadi Patih Sepuh, Rumah Adat Pekalongan, dan Rumah Pecinan. Peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut merupakan potensi pariwisata Kota Pekalongan yang sedang terus dikembangkan sebagai daya tarik wisatawan, baik lokal, regional, nasional, maupun internasional.
      Kota Pekalongan merupakan salah satu kota penting dalam penyebaran agama Islam di Pesisir Pulau Jawa. Tidak heran banyak tokoh Islam yang berpengaruh dalam membawa dan mengembangkan ajaran agama Islam yang akhinya dimakamkan di Kota Pekalongan. Salah satunya adalah Sayid Ahmad bin Abdullah bin Tholib Al Atas. Beliau adalah seorang ulama besar yang semasa hidupnya sangat berjasa dalam merintis pendirian beberapa pondok pesantren di Pulau Jawa. Makam beliau terletak di Jalan Irian Kelurahan Sapuro, Kecamatan Pekalongan Barat, sekitar 1000 meter dari terminal bus Kota Pekalongan. Di dekat komplek pemakaman beliau juga terdapat masjid tua bernama ’Masjid Aulia” yang dibangun pada tahun 1113 H/1714 M. Para pengunjung adalah mereka yang ingin melakukan ritual ziarah makam, biasanya datang pada hari Kamis dan Jum’at. Jumlah pengunjung mencapai puncaknya setiap tanggal 14 Sya’ban/ Ruwah di mana setiap tanggal itu diadakan acara Sya’banan atau lebih dikenal dengan istilah “Khol”, ziarah makam dibuka untuk umum setiap harinya. Pengunjung datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari Malaysia dan Brunei Darussalam. Jumlah pengunjung makam sulit untuk diketahui secara pasti, pada setiap Khol jumlah pengunjung bisa mencapai ribuan orang. Fasilitas yang tersedia bagi pengunjung di komplek makam ini adalah lahan parkir cukup luas, masjid, penginapan, rumah makan, pedagang souvenir, dan lain-lain.
       Di Kota Pekalongan terdapat beberapa tradisi, salah satunya adalah tradisi sedekah laut atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Nyadran” yang banyak pula dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat nelayan Kota Pekalongan setiap bulan Syuro sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil laut yang melimpah. Pada tradisi ini para nelayan bersama masyarakat mengadakan Ritual Sadranan dengan menghias kapal-kapal nelayan yang berisi sesaji antara lain kepala kerbau, aneka jajan pasar, wayang Dewi Sri dan Pandawa Lima, aneka mainan anak-anak, serta setelah melalui beberapa prosesi dan do’a selamatan kemudian dibawa ketengah laut untuk dilarung yang diawali pelarungan kepala kerbau oleh seorang tokoh spiritual. Isi perahu yang telah dilarung akan menjadi rebutan anak-anak nelayan dengan harapan mendapat barokah dari Allah SWT melalui barang-barang yang dilarung tersebut. Pada saat yang bersamaan diselenggarakan juga Ritual Pementasan Wayang Kulit dengan cerita Bedog Basu yang menceritakan terjadinya ikan di darat dam di laut, serta berbagai kegiatan lomba olahraga, kesenian dan kulirner ikan hasil tangkapan nelayan. Kemudian ada pula kesenian Sintren, yaitu kesenian tradisional masyarakat Pekalongan dan sekitarnya, yang merupakan sebuah tarian yang berbau mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dan Sulandono. Tersebut dalam kisah bahwa Sulandono adalah putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Kir Baurekso, akhirnya Raden Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan diantara keduanya masih terus berlangsung melalui alam ghoib. Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari memasukkan roh bidadari ketubuh Sulasih, pada saat itu pula Raden Sulandono yang sedang bertapa dipanggil roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan diantara Sulasih dan Raden Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan Sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari benar-benar masih dalam keadaan suci (perawan). Sinteren diperankan seorang gaadis yang masih suci, dibantu oleh pawangnya dan diiringi gending 6 orang sesuai Pengembangan tari sintren sebagai hiburan budaya maka dilengkapi dengan penari pendamping dan bador (lawak). Di dalam permainan kesenian rakyat pun Dewi Lanjar berpengaruh antara lain dalam permainan sintren, si pawang (dalang) sering mengundang roh Dewi Lanjar untuk masuk ke dalam permainan sintren. Bilamana hal itu dapat berhasil maka pemain sintren akan kelihatan lebih cantik dan dalam membawakan tarian lebih lincah dan mempesonakan. Kesenian Sintren ini sangat dikenal dan populer di daerah Pantura terutama Eks Karesidenan Pekalongan. Pada jaman dahulu acara ini digunakan untuk acara hiburan dan ajang komunikasi muda mudi untuk mencari jodoh, selain itu kesenian ini digunakan sebagai mediasi untuk meminta hujan. Sedangkan saat ini sintren masih sering dipentaskan pada hari-hari besar nasional serta untuk menyambut tamu resmi.
      Kota Pekalongan kaya dengan acara budaya tradisional. Tradisi ini tetap terpelihara secara turun temurun dalam kurun waktu yang panjang. Para wisatawan yang kebetulan berkunjung bertepatan dengan penyelenggaraan acara-acara tradisional ini, bisa ikut menyaksikan jalannya upacara yang cukup menarik dan unik. Beberapa acara tradisi ini diantaranya adalah Syawalan atau Krapyakan (lopis raksasa). Syawalan merupakan tradisi masyarakat Kota Pekalongan khususnya masyarakat Daerah Krapyak di bagian utara Kota Pekalongan, yang dilaksanakan pada setiap hari ketujuh sesudah Hari Raya Idul Fitri. Hal paling menarik dalam pelaksanaan tradisi ini adalah dibuatnya lopis raksasa yang ukurannya mencapai tinggi 2 meter diameter 1,5 meter dan berat mencapai 500 Kg. Setelah acara do’a bersama, lopis raksasa kemudian dipotong oleh Walikota Pekalongan dan dibagi-bagikan kepada para pengunjung. Para perngunjung biasanya berebut untuk mendapatkan Lopis tersebut yang maksudnya untuk mendapat berkah. Pembuatan Lopis dimaksudkan untuk mempererat tali silahturahmi antara masyarakat Krapyak dan dengan masyarakat daerah sekitarnya, hal ini diidentikkan dengan sifat Lopis yang lengket atau merekatkan. Masyarakat Krapyak juga biasanya menyediakan makanan ringan dan minuman secara gratis kepada para pengunjung. Jumlah pengunjung pada tradisi ini mencapai ribuan orang yang berasal dari seluruh Kota Pekalongan dan sekitarnya. Selain itu ada pula kesenian Samproh, merupakan kesenian tradisional yang bernafaskan islam, yang beranggotakan beberapa wanita dengan diiringi lantunan alat musik seperti rebana, Sedangkan Simtuduror juga merupakan kesenian tradisional yang bernafaskan Islam dengan menggunakan Rebana dan Jidor sebagai alat musiknya. Kesenian ini beranggotakan antara 15 orang - 20 orang, dengan diiringi musik mereka melantunkan puji-pujian atau sholawatan sebagai ungkapan syukur dan permohonan keselamatan dunia dan akhiran pada Allah SWT. Kesenian ini biasa digunakan pada saat pembukaan acara khajatan atau selamatan yang diselenggarakan oleh warga masyarakat Kota Pekalongan yang terkenal dengan ketaatannya dalam menjalankan perintah agama Islam. Satu lagi tradisi yang tidak ketinggalan dari Kota Pekalongan, yaitu tradisi Pek Chun. Pada hakekatnya hampir sama dengan Nyadran. Hanya saja, tradisi ini diselenggarakan oleh warga Tionghoa di Kota Pekalongan. Pada prinsipnya acaranya sama, hanya penyelenggara, isi perahu, dan waktunya yang berbeda. Tradisi Pek Chun dilaksanakan oleh masyarakat Tionghoa menurut kalender China pada perayaan tahun baru China atau Imlek. Acara yang mengiringi tradisi Pek Chun adalah pentas seni Barongsai dan kesenian masyarakat China lainnya serta makan bersama dan pelaksanaan berbagai lomba.

    SoftSkill :: Ilmu Budaya Dasar -- IBD sebagai Salah Satu MKDU

    Pendahuluan
           Mata kuliah IBD adalah salah satu mata kuliah wajib yang diberikan pada semester-semester awal di tingkat perguruan tinggi, yang menyangkut tentang nilai-nilai, kebudayaan, dan berbagai masalah yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-harinya. Diharapkan mata kuliah ini dapat menjadi semacam lingua franca atau bahasa pemersatu bagi para akademisi dari berbagai lapangan ilmiah. Dengan memiliki satu bekal yang sama diharapkan para akademisi dapat lebih lancar berkomunikasi. Kelancaran berkomunikasi ini selanjutnya akan memperlancar proses pembangunan dalam berbagai bidang yang ditangani oleh para cendikiawan dari berbagai lapangan keahlian.
          Dengan mendapat mata kuliah IBD ini mahasiswa diharapkan nantinya dapat memiliki latar belakang pengetahuan yang cukup luas tentang kebudaaan di Indonesia pada umumnya dan menimbulkan minat mendalaminya lebih lanjut, agar dengan demikian mahasiswa diharapkan turut mendukung dan mengembangkan kebudayaannya sendiri dengan kreatif. Salah satu sifat penting mata kuliah ini adalah bahwa IBD bukan pelajaran sastra, filsafat, ataupun suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Sesuai dengan namanya Ilmu Budaya Dasar, mata kuliah ini hanya memberikan dasar-dasar yang cukup kuat kepada mahasiswa untuk mencari hubungan antara segala segi kebudayaan dalam hubungan usaha yang terus mencari kebenaran, keindahan, dan kebebasan dalam berbagai bentuk, serta hubungannya dengan alam semesta, Tuhan, masyarakat, dan juga penemuan jati dirinya. Pendeknya dalam mencari hidup yang dirasanya lebih bermakna. Ini tentu menyangkut sikap moral yang diharapkan memperlengkapi mahasiswa dengan pengalaman luas yang padu yang akan membimbingnya kearah pembentukan ukuran-ukuran, rasa, dan nilai-nilai dengan tidak bergantung pada orang lain.
        Jadi secara singkat dapat dikatakan bahwa setelah mendapatkan mata kuliah IBD ini mahasiswa diharapkan:
    1.  Memperlihatkan minat dan kebiasaan dalam menyelidiki apa saja yang terjadi di sekitarnya dan di luar lingkungannya, serta menelaah apa yang dikerjakannya dan mengapa.
    2.  Sadar akan pola-pola nilai yang dianutnya serta bagaimana hubungan nilai-nilai ini dengan cara tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari.
    3.  Selalu memikirkan kembali dengan hati terbuka nilai-nilai yang dianutnya untuk mengetahui apakah dia secara berdiri sendiri dapat membenarkan nilai-nilai tersebut untuk dirinya sendiri.
    4.  Memiliki keberanian moral untuk mempertahankan nilai-nilai yang dirasanya sudah dapat diterimanya dengan penuh tanggungjawab dan sebaliknya menolak nilai-nilai yang tidak dibenarkannya.
         Latar belakang diberikannya IBD selain melihat konteks budaya Indonesia juga menyesuai dengan program pendidikan di perguruan tinggi dalam rangka menyempurnakan pembentukan sarjana. Selanjutnya pendidikan ini diharapkan dapat menghasilkan sarjana-sarjana yang mempunyai seperangkat pengetahuan yang terdiri atas:
    1.   Kemampuan Akademis
    adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara ilmiah, baik lisan maupun tulisan, menguasai peralatan analisis, maupun berpikir logis, kritis, sitematis, dan analitis, memiliki kemampuan konsepsional untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang dihadapi, serta mampu menawarkan alternatif pemecahannya.
    2.   Kemampuan Professional
    adalah kemampuan dalam bidang profesi tenaga ahli yang bersangkutan. Dengan kemampuan ini, para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang tinggi dalam bidang profesinya.
    3.   Kemampuan Personal
    adalah kemampuan kepribadian. Dengan kemampuan ini para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan sehingga mampu menunjukkan sikap, dan tingkah laku, dan tindakan yang mencerminkan kepribadian Indonesia, memahami dan mengenal nilai-nilai keagamaan, kemasyarakatan, dan kenegaraan, serta memiliki pandangan yang luas dan kepekaan terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia.
    Dengan seperangkat kemampuan yang dimiliki ini, lulusan perguruan tinggi diharapkan menjadi sarjana yang cakap, ahli dalam bidang yang ditekuninya, serta mau dan mampu mengabdikan keahliannya untuk kepentingan masyarakat.

    Pengertian Ilmu Budaya Dasar (IBD)
    Secara sederhana IBD adalah seperangkat pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Istilah IBD dikembangkan pertama kali di Indonesia sebagai pengganti istilah basic humanitiesm yang berasal dari istilah bahasa Inggris “The Humanities”. Adapun istilah humanities itu sendiri berasal dari bahasa latin yaitu humnus yang artinya manusia, berbudaya, dan halus. Dengan mempelajari the humanities diandaikan seseorang akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya, dan lebih halus. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa the humanities berkaitan dengan nilai-nilai manusia sebagai homo humanus atau manusia berbudaya. Agar manusia menjadi humanus, mereka harus mempelajari ilmu the humanities ini disamping tidak meninggalkan tanggungjawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri.
    Untuk mengetahui bahwa IBD termasuk kelompok pengetahuan budaya, terlebih dahulu perlu diketahui pengelompokan ilmu pengetahuan menurut Prof. Dr. Harsya Bactiar berikut yang dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar, yaitu:
    1.   Ilmu-ilmu Alamiah (Natural Scince)
    bertujuan untuk mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah. Caranya adalah dengan menentukan hukum yang berlaku mengenai keteraturan-keteraturan itu, kemudian dibuat analisis untuk menentukan suatu kualitas. Hasil analisis ini kemudian digeneralisasikan. Atas dasar ini lalu dibuat prediksi. Hasil penelitian 100 5 benar dan 100 5 salah.
    1.   Ilmu-ilmu sosial (Social Scince)
    bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antara manusia. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu alamiah. Tapi hasil penelitiannya tidak 100 5 benar, hanya mendekati kebenaran. Sebabnya ialah keteraturan dalam hubungan antara manusia initidak dapat berubah dari saat ke saat.
    1.   Pengetahuan Budaya (The Humanities)
    bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan kenyataan-kenyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti. Pengetahuan budaya (the humanities) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup keahlian (disiplin) seni dan filsafat. Keahlian inipun dapat dibagi-bagi lagi ke dalam berbagai bidang keahlian lain, seperti seni tari, seni rupa, seni musik, dan lain-lain.
    Ilmu Budaya Dasar / IBD (Basic Humanities) adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan perkataan lain IBD menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran serta kepekaan mahasiswa dalam mengkaji masalah masalah manusia dan kebudayaan. IBD sendiri pada dasarnya berbeda dengan pengetahuan budaya. Pengengetahuan budaya lebih kepada mengkaji masalah nilai-nilai manusia sebagai mahluk berbudaya (homo humanus). Sedangkan IBD bukan ilmu tentang budaya, melainkan mengenai pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan budaya.

    Tujuan Ilmu Budaya Dasar
    Penyajian mata kuliah ilmu budaya dasar tidak lain merupakan usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan demikian mata kuliah ini tidak dimaksudkan untuk mendidik ahli-ahli dalam salah satu bidang keahlian yang termasuk didalam pengetahuan budaya (the humanities) akan tetapi IBD semata-mata sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas wawasan pemikiran serta kemampuan kritikalnya terhadap nilai-nlai budaya, baik yang menyangkut orang lain dan alam sekitarnya, maupun yang menyangkut dirinya sendiri.
    Untuk bisa menjangkau tujuan tersebut IBD diharapkan dapat:
    1. Mengusahakan kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya, sehingga mereka lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka. Memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas pandangan mereka tentang masalah kemansiaan dan budaya serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kedua hal tersebut.
    2. Mengusahakan agar mahasiswa, sebagai calon pemimpin bagnsa dan Negara serta ahli dalam bidang disiplin masing-masing tidak jatuh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengkotakan disiplin yang ketat. Mengusahakan wahana komunikasi para akademisi agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain. Denganmemiliki satu bekal yang sama, para akademisi diharapkan akan lebih lancar dalam berkomunikasi.
    Ruang Lingkup Ilmu Budaya Dasar
    Bertitik tolak dari kerangka tujuan yang telah ditetapkan, dua masalah pokok bisa dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan ruang lingkup kajian mata kuliah IBD. Kedua masalah pokok itu antara lain:
    1. Berbagai aspek kehidupan manusia yang di dalamnya adalah persoalan dalam menjalankan hidup dan fenomena budaya yang berkembang, dalam hal ini bisa dikaji dengan melakukan pendekatan budaya.
    2. Hakekat manusia baik secara individu maupun kelompok, memiliki keanekaragaman kebudayaan pada zamannya serta ragam budaya di masing-masing daerah.
    Dari dua pokok permasalahan ini, maka secara tidak langsung telah menempatkan manusia sebagai bahan kajian IBD. Manusia sebagai individu yang kreatif dalam hal ini dijadikan obyek dalam menganalisis setiap fenomena budaya. Dalam perkembangannya kajian ini melihat berbagai dimensi yang dilakukan manusia, seperti, hubungan manusia dengan alam, dengan sesama manusia, nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan manusia serta hubungan manusia dengan penciptanya.
    Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya yang dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya (the humanities), baik dari segi masing-masing keahlian (disiplin), maupun secara gabungan (antarbidang) berbagai disiplin di dalam pengetahuan budaya.
    Menunjuk kedua pokok masalah yang dikaji dalam mata kuliah IBD, nampak dengan jelas bahwa manusia menempati posisi sentral dalam pengkajian. Manusia tidak hanya sebagai obyek pengkajian. Bagaimana hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesama, dengan alam, dan dengan Sang Pencipta menjadi tema sentral dalam IBD. Adapun pokok-pokok bahasan yang dikembangkan antara lain:
    1. Manusia dan Cinta Kasih
    2. Manusia dan Keindahan
    3. Manusia dan Penderitaan
    4. Manusia dan Keadilan
    5. Manusia dan Pandangan Hidup
    6. Manusia dan Tanggungjawab serta Pengabdian
    7. Manusia dan Kegelisahan
    8. Manusia dan Harapan